Neversad4ever’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

voyager

hari ini, 5 september 2007, voyager 1 genap berumur 30 tahun. diluncurkan pada 5 september 1977 (saya baru berumur 5 tahun tuh!), voyager 1 awalnya direncanakan untuk misi 5 tahun, namun tetap operasional sampai saat ini, dan baru pada tahun 2020 nanti diperkirakan akan berhenti beroperasi karena sudah kehabisan sumber energi.
jarak antara matahari dengan voyager 1 adalah sekitar 15.44 milyar kilometer, sehingga sinyal elektromagnetik dari voyager 1 membutuhkan sekitar 13 jam untuk mencapai bumi. sebagai perbandingan, cahaya membutuhkan waktu 1.4 detik dari bulan ke bumi, 8.5 menit dari matahari ke bumi, sementara cahaya dari pluto mencapai bumi membutuhkan waktu 5.5 jam.

saat ini para ilmuwan memperkirakan bahwa voyager 1 sudah memasuki pinggiran tata surya, heliosheath, yaitu zona antara termination shock (gelombang kejut) — tempat kecepatan solar wind (angin matahari) melambat dari kecepatan cahaya ke kecepatan suara akibat tertahan oleh medium antarbintang (interstellar medium) — dengan heliopause, yaitu tempat angin matahari berhenti sama sekali, yang diperkirakan sebagai batas tatasurya. diperkirakan voyager 1 akan mencapai batas tatasurya sekitar tahun 2015 nanti. jika voyager 1 masih bisa beroperasi saat itu, inilah saat pertama kali para ilmuwan bisa mendapatkan pengukuran langsung dari medium antarbintang.

February 29, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

Manusia Ketemu Makhluk Angkasa Luar Tahun 2020

Kompas, Jumat, 15 Maret 1996

Manusia Ketemu Makhluk Angkasa Luar Tahun 2020
Toledo, Kamis

Astronom Amerika Serikat yang terlibat dalam program pencarian asal-usul alam semesta dan segala isinya kini yakin manusia akan bertemu dengan makhluk beradab di luar Bumi (ET) paling lambat 25 tahun yang akan datang.

Dalam pertemuan pemburu planet sejagat hari Selasa 12 Maret di Toledo, Spanyol, Direktur Program Origins Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) Mike Kaplan mengatakan sudah pasti ada kehidupan berinteligensi di beberapa planet di luar gugus tata surya.

Kaplan meragukan pendapat awam bahwa manusia satu-satunya makhluk beradab di alam semesta ini. “Saya pikir kita hanya menunggu waktu saja untuk bisa kontak dengan mereka. Bila suatu hari kita bertemu, jangan kaget karena mereka sangat beda dengan kita,” katanya.

Pertemuan itu diperkirakan paling lambat 25 tahun lagi, sekitar tahun 2020. Yang tahun ini berusia 75 tahun dan tampaknya masih segar bugar tentu saja sangat sedikit yang beruntung bisa jadi saksi dalam pertemuan itu.

Pemburu planet dari seluruh dunia berkumpul di kota bersejarah Spanyol itu untuk membahas pengembangan interferometri inframerah, teknologi yang akan membantu pencarian kehidupan dan makhluk beradab di luar tata surya.

“Pembahasan ini merupakan upaya pertama merealisasikan program yang sudah berumur 20 tahun, mencari jawaban terhadap pertanyaan ratusan tahun anak manusia mengenai kemungkinan ada makhluk beradab di luar Bumi,” kata Kaplan.

Keseriusan astronom menyentuh isu “peka” ini makin menggeliat setelah astronom Swiss pada Oktober 1995 mendeteksi sebuah planet di luar tata surya. Dalam waktu yang singkat, ilmuwan AS kemudian menemukan dua planet lain.

Inferometer inframerah

Astronom yang ikut dalam pertemuan di Toledo itu memperlihatkan kegairahan akan segera dapat mengaktualkan teknologi inferometer inframerah dalam waktu dekat.

“Inilah saat pertama, pencarian ET bukan lagi mimpi, tinggal menunggu waktu menerapkan interferometer inframerah,” kata Kaplan, yang program Origins-nya bertujuan mempelajari asal-usul alam semesta, pembentukan planet, dan eksistensi kehidupan di planet di luar tata surya.

“Kehidupan di planet lain, kalaupun tak identik, akan sangat serupa dengan kehidupan di Bumi,” kata biologiwan Spanyol terkemuka Juan Oro dalam sebuah konferensi pers.

Teleskop tradisional dan teleskop angkasa Hubble belum dapat membantu usaha pencarian ET karena cahaya bintang-bintang menghalangi planet-planet yang mengorbit di dekat bintang-bintang itu. Sedangkan sinar inframerah pada interferometer inframerah, yang 40 kali lebih kuat dibandingkan Hubble, mampu “melihat” planet mana yang memenuhi syarat perlu -seperti adanya air dan oksigen- ditinggali makhluk hidup.

NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA) secara terpisah telah mulai mengembangkan teknologi inframerah, tapi kedua badan itu berpendapat dibutuhkan kerja sama internasional untuk menjalankan proyek sebesar ini.

NASA menaksir anggaran membangun interferometer inframerah sekitar 200 juta dollar AS setahun, sekitar Rp 460 milyar, untuk jangka waktu 10 tahun. Orang-orang Eropa dan Amerika sependapat proyek ini memulai era baru peradaban manusia.

“Menemukan kehidupan beradab di luar Bumi akan mengubah segala-galanya: filsafat, agama… Dan ini akan membuat kita berendah hati… bahwa manusia bukan satu-satunya makhluk beradab dan tidak istimewa,” kata Kaplan. Ia menilai program pencarian ET yang serius ini sebagai era eksplorasi baru, Galileo yang baru. (Rtr/sal)

February 29, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

karya sastra

ARTIKEL: Pariwisata Flores Menunggu Payung Bersama
Oleh FRANS SARONG dan PASCAL S BIN SAJU

Pulau Flores dan sekitarnya seperti Pulau Lembata, Adonara, Solor, dan Komodo, dikenal kaya dengan obyek wisata yang unik, dan bernilai tinggi. Empat obyek wisata di antaranya sudah dikenal hingga mancanegara, yakni biawak raksasa komodo di Komodo, taman laut Riung, danau berwarna Kelimutu, dan perburuan paus kotaklema di Lamalera.

Obyek-obyek wisata tadi berada dalam satu lintas tujuan wisata nasional, yakni Bali dan Senggigih di Lombok (Nusa Tenggara Barat). Meski demikian, obyek wisata di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tadi belum dikelola secara maksimal. Belum bernilai ekonomis bagi daerah dan penduduknya, serta sepi kunjungan wisata.

Kiprah wisata di Flores terputus, tidak hanya dari arah barat (Bali dan Lombok), tetapi juga daratan pulau itu sendiri. Flores yang kini meliputi tujuh kabupaten, termasuk Lembata, belum memiliki payung bersama dalam mengelola pariwisatanya. Mereka masih asyik berjuang sendiri-sendiri.

Dari Komodo ke Kelimutu

Tidak dapat disangkal, biawak raksasa komodo yang menghuni kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) di Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores, adalah kekhasan Indonesia. Biawak dari zaman prasejarah ini masih hidup hingga di zaman modern seperti sekarang ini, dan menjadi daya tarik satu-satunya yang dimiliki dunia saat ini.

TNK terkenal hingga pelosok dunia karena menyimpan dua objek wisata berdaya tarik tinggi. Selain kadal raksasa komodo tadi, juga bentangan kawasan perairannya yang kaya berbagai jenis biota lautnya.

Biawak komodo (Varanus komodoensis)—reptil darat terbesar di dunia—di TNK hidup menyebar di Pulau Komodo, Rinca, dan Gilimotang. Sekitar 2.000-an ekor reptil ini disebut ora oleh masyarakat setempat dan termasuk binatang pemakan bangkai dan terkadang kanibal. Mangsa yang sekaligus menjadi makanannya adalah rusa, babi hutan, kerbau dan kuda liar.

Kekuatan lain dari TNK adalah kekayaan kandungan air lautnya. Kawasan laut TNK seluas 132.572 hektar, memiliki kandungan biota tergolong kaya di dunia. Hasil penelitian bahkan menyebutkan terumbu karang dalam kawasan TNK sebagai terindah di dunia karena bentuk dan warnanya beraneka. Terumbu karangnya terdiri dari 260 jenis.

Di perairan TNK terdapat lebih dari 1.000 jenis ikan bernilai ekonomis tinggi, seperti kerapu dan ikan napoleon (Chelinus undulatus), jenis ikan langka yang menjadi hidangan bergengsi di China.

Perairan TNK juga merupakan tempat berlindung dan bertelur berbagai jenis ikan karang, penyu hijau dan penyu sisik. Perairan yang sama merupakan jalur lintasan sekitar 10 jenis paus, enam jenis lumba-lumba dan ”ikan duyung” dugong.

Setelah mengunjungi TNK biasanya perjalanan wisata di Flores akan dilanjutkan antara lain menuju Riung di Kabupaten Ngada. Selain memiliki perairan laut yang jernih, pulau kelelawar Ontoloe, serta pulau-pula berpasir putih, Riung juga menyimpan potensi taman laut yang indah.

Perjalanan wisata ke kawasan Pulau Flores terasa tidak lengkap jika wisatawan tidak menyempatkan diri mengunjungi danau berwarna Kelimutu di Ende. Obyek wisata yang satu ini menyimpan misteri alam yang tiada duanya karena warnanya berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Danau ”ajaib” itu ditemukan oleh Van Suchtelen, pegawai pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Danau vulkanik itu dianggap ajaib atau misterius karena warna ketiga danau itu berubah-ubah, seiring dengan perjalanan waktu. Awalnya, Kelimutu memiliki tiga danau masing- masing berwarna merah, putih, dan biru. Selalu berubah-ubah dalam setiap waktu, dan pada medio Oktober ini, dua dari tiga danau itu berwarna coklat, lainnya hijau.

Lamalera

Terletak di tepi selatan Pulau Lembata, Lamalera hanyalah sebuah kampung kecil yang berhadapan dengan Selat Ombai. Meski begitu, kampung ini sejak lama terkenal hingga ke ujung dunia. Kekuatan pencuatnya adalah tradisi penangkapan paus kotaklema atau sperm whale (Physeter macrocephalus) yang mamalia raksasa laut, serta berbagai jenis ikan besar lainnya yang dilakukan secara tradisional oleh nelayan pemburunya.

Perburuan itu dilakukan dengan hanya mengandalkan alat tangkap yang amat sederhana, yakni sejenis sampan bernama pledang. Sampan kecil bercadik ini hingga sekarang tetap menjadi andalan para nelayan memburu paus.

Cara berburu paus sebesar 15-an meter dengan bobot rata-rata 40-an ton, memang amatlah unik dan bahkan amat menantang maut. Para nelayan mendekatkan pledang dengan ikan buruan, lalu ikan raksasa itu langsung ditombaki dengan tempuling berpengait.

Caranya pun nekat. Ikan buruan ditombaki oleh seorang nelayan khusus dengan melompat dari pledangnya. Tidak jarang para nelayan bersama pledangnya terseret hingga laut lepas, bila mangsa buruan buas dan tidak cepat mati.

Perburuan paus di Lamalera terjadi antara Mei-Oktober. Selama musim ini, Lamalera menebarkan bau amis dari jemuran dendeng daging kotaklema. Hampir di setiap rumah penduduk dilengkapi ”pancuran dadakan” khusus, mengalirkan tetesan minyak dari potongan lemak dendeng yang dijemur. Sebagian tampungan minyak paus ini, dipakai sebagai bahan bakar nyala penerangan pelita di waktu malam.

Egoisme daerah

Meski memiliki potensi unik seperti itu (yang tiada taranya di dunia), pemerintah daerah di kawasan itu belum berpikir ke arah pengembangan kawasan wisata yang terpadu satu sama lain. Masing-masing daerah hanya mempromosikan obyek wisata di daerahnya sendiri, tanpa memedulikan potensi wisata di daerah lainnya.

Wacana agar pengelolaan pariwisata Flores-Alor berada di bawah satu payung sebenarnya sudah bergulir sejak tahun 1996. Salah seorang tokoh penggagasnya, Paul Boleng, yang ketika itu menjabat Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai di Ruteng. Gagasan itu sudah melangkah jauh, hingga terlaksananya sebuah pertemuan yang melibatkan seluruh Kepala Dinas Pariwisata dari tujuh kabupaten di kawasan itu.

Bahkan hasil pertemuan itu langsung dibukukan dengan judul Pariwisata Flores-Alor. Paul Boleng, yang kini sudah pensiun, ketika diubungi tim Lintas Timur-Barat Kompas, Selasa (25/10) menjelaskan, gagasan itu sebetulnya bertolak dari suatu kekhawatiran bahwa pengelolaan pariwisata di kawasan itu hanya akan berakhir dengan kesia-siaan jika dilakukan sendiri-sendiri.

Kekhawatiran itu kemudian terbukti semakin mengental di era otonomi daerah karena masing-masing daerah mengedepankan urusan daerahnya sendiri tanpa peduli akan perlunya keterkaitan dengan daerah lain di sekitarnya. Buktinya hingga kini gagasan tentang perlunya payung bersama untuk pengelolaan pariwisata di kawasan itu belum juga terwujud.

Dulunya, inti gagasan itu ialah menginginkan pembentukan Badan Pariwisata Flores-Alor, bertugas menyusun rencana induk pengembangan pariwisata. Ternyata, dalam perjalanannya tidak direspons serius seperti diharapkan. Pejabat terkait dari masing-masing daerah lebih melihatnya sebagai proyek, hingga menjadi kendala terbentuknya payung bersama tadi.

Kepentingan promosi wisata, misalnya, menjadi urusan sendiri-sendiri setiap daerah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ende hanya mempromosikan danau berwarna Kelimutu, begitu juga Pemkab Manggarai Barat dengan komodonya, Ngada dengan Riung-nya dan Lembata dengan perburuan paus kotaklema di Lamalera.

Jika pemerintah di seluruh kawasan itu serius dan menyadari potensi berantai tadi, hampir pasti kunjungan wisata tidak terputus hanya pada satu obyek wisata. Seharusnya juga, agar kunjungan wisata tidak terputus seperti itu, pembangunan wisata Flores yang berada dalam satu lintasan wisata dengan Bali dan Lombok harus membangun kantor bersama di Bali. (diambil dari Kompas edisi 29/10/05)

February 29, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

February 29, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.