Neversad4ever’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

potensi alam irian jaya tengah

Lembah Baliem Surga Para Pelintas Alam

Dalam 30 tahun baru tiga kali penulis menginjakkan kaki di bumi Irian Jaya. Pertama kali pada 1 Mei 1963, ketika meliput serah terima wilayah provinsi Irian Barat dari UNTEA (United Nations Temporary Administration) ke haribaan RI yang disaksikan oleh segenap pers dunia di Kota Baru (sekarang Jayapura).

Kedua, menjelang akhir 1986, kali ini sampai di Lembah Baliem, ketika meliput konvensi nasional ASITA (Association of Indonesian Tourism and Travel Agents), dan terakhir pada 1993 ketika mendampingi Herman Diener seorang pakar pariwisata dari Belanda pemilik perusahaan konsultan Heritage International, yang berkedudukan di Singapura, untuk melakukan survei kelayakan wilayah Lembah Baliem sebagai surga para trekker (pelintas alam) dunia.
Untuk bisa sampai ke Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya di Lembah Baliem, praktis hanya ada satu jalan masuk yakni lewat udara. Lembah Baliem ini dalam guide books sering dinamakan the Grand Valley of the Baliem River, yang terletak di perut atau tengah-tengah wilayah paling timur Indonesia. Merpati Nusantara Airline (menjelang 1 Mei 1963 masih bernama Kroonduif) hingga hari ini melayani rute Jayapura-Wamena tiap hari dengan jarak terbang satu jam.
Gunung-gunung menjulang tinggi yang memayungi lembah yang berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut ini adalah Puncak Mandala (Mount Juliana) yang mencapai 4.700 meter, Puncak Yamin 4.595 meter dan Gunung Trikora (dulu Mount Wilhelmina) yang merupakan mahkotanya dan terletak di sebelah barat daya Lembah Baliem mempunyai ketinggian 4.743 meter.
Walaupun jalan darat sudah terbentang antara Kabupaten Jayawijaya sampai Jayapura, untuk sementara Anda tidak dianjurkan menempuhnya, karena di sana-sini masih mengalami kerusakan. Di samping faktor keamanan yang harus diperhitungkan, jalan darat pun masih jauh dari nyaman. Sarana pendukung untuk para pelintas jalan darat memang belum memadai, atau Anda harus jeli, tabah dan “siap tempur” untuk menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk menyediakan bahan bakar untuk jarak ratusan kilometer untuk pergi-pulang dari Jayapura-Wamena.
Di samping itu, berbagai keperluan mendasar lainnya untuk setiap perjalanan jarak jauh tidak bisa Anda harapkan dapat diperoleh di sepanjang jalan antara kedua tempat tersebut. Bisa Anda bayangkan, andaikan sudah ada satu atau dua bengkel kendaraan antara Jayapura dan Lembah Baliem (kawasan paling terpencil di kawasan Nusantara paling timur), tentu masih merupakan kemewahan untuk mengharapkan keadaan di sepanjang perjalanan darat di Irian Jaya itu seperti di Pulau Sumatra, Kalimantan atau Sulawesi.
Mungkin kita masih harus menunggu beberapa puluh tahun lagi untuk melihat perkembangan di provinsi yang masih bergolak ini hingga daerah ini mampu mengejar ketinggalan dari rata-rata wilayah luar Jawa lainnya. Walaupun prospek ekonomi Irian Jaya tergolong nomor wahid, mengingat prospek kekayaan alam seperti tambang logam, minyak dan gas bumi. Di samping prospek ekonomi lain yang berasal dari hasil-hasil hutan maupun agro-industri yang kini sudah dirintis dengan penanaman kelapa sawit dalam skala besar.

Bisa Bertemu Obahorok
Jika Anda cukup beruntung dan Obahorok masih hidup, maka kedatangan Anda di bandara Wamena bisa saja Anda disambut oleh kepala suku Dani, Obahorok, yang sekian puluh tahun lalu sempat beromantika dan kawin dengan Wynn Sargent. Sargent adalah seorang wartawati foto Amerika yang mengaku anthropolog, yang kemudian menerbitkan buku tentang kehidupan suku Dani di Lembah Wamena.
Siapa yang tidak tertarik membaca buku yang ditulis oleh seorang (yang mengaku) antrhopolog, sementara buku itu disusun selama berbulan-bulan dan dilakukan studi selama bertahun-tahun? Belum lagi tekadnya yang nekat, kawin dengan sang kepala suku, Obahorok. Padahal mereka dipisahkan oleh jarak budaya, bahkan peradaban, ratusan ribu tahun.
Sargent yang berasal dari negeri paling modern dan paling maju di dunia, sedangkan Obahorok ketika menjalin asmara dengan Sargent yang berkulit putih itu, mungkin baru pertama kali selama hidupnya bertemu dengan peralatan modern yang terbuat dari logam, termasuk alat potret. Seperti beberapa puluh tahun sebelum juru foto Michael Rockefeller (anak laki-laki multi miliarder David Rockefeller) hilang di belantara Irian, rata-rata masyarakat Irian, termasuk suku Dani, masih menggunakan kapak batu, anak panah dan tombak untuk berburu.

Surga bagi Trekkers
Alam Lembah Baliem yang sejuk dengan suhu beberapa derajat di malam sampai pagi hari, dengan udaranya yang masih sangat bersih tanpa polusi serta hijaunya padang ilalang dan rumputnya, memberi justifikasi kepada Herman Diener untuk mengambil kesimpulan bahwa Lembah Baliem nyaris merupakan surga bagi para pelintas alam atau trekkers.
Dunia kini sedang gandrung dengan wisata alam atau eco tourism, sehingga khususnya para muda-mudi dari berbagai negara maju seperti Eropa, Amerika, Australia bahkan Jepang sempat berbondong-bondong dalam jumlah ribuan tiap tahunnya untuk menjejakkan kaki di Lembah Baliem. Lembah Baliem bagaikan taman firdaus dengan kehidupan manusia yang masih erat memeluk peradaban zaman batu, tinggal di gubuk-gubuk gelap tanpa jendela.
Namun masyarakat di Lembah Baliem telah ribuan tahun mengenal kegiatan bercocok tanam, sehingga dari jumlah ribuan orang Suku Dani pada sekitar 1930-an, kini mencapai puluhan ribu. Hasil pertanian mereka adalah talas, ubi jalar, serta beberap jenis buah-buahan dan sayur-sayuran.
Tetapi ternyata jumlah turis asing per tahun yang mencapai ribuan orang, sekarang sudah jauh merosot bahkan tinggal beberapa ratus orang setiap tahun. Ini sebagai akibat dari masa krisis moneter dan tidak cukup promosi Lembah Baliem sebagai surga para pelintas alam.
Begitu menjejakkan kaki di bandara Wamena dan meletakkan kopor di penginapan (di Wamena belum ada hotel berbintang, yang ada sekadar losmen dan penginapan kelas melati), Herman Diener langsung menjelajahi Lembah Baliem (lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut).
Lembah Baliem dipagari oleh pegunungan-pegunungan dengan ketinggian ribuan meter, sebagai kelompok gunung-gunung bersalju. Sungguh menggelikan bahwa kita sering lupa sesungguhnya Indonesia memiliki gunung yang tidak kurang menggetarkannya dibandingkan dengan gunung-gunung Alpen di Eropa yang puncaknya selalu bersalju.
Di tengah kehidupan yang nyaris masih primitif, di kota kecil Wamena terdapat pasar Nayak yang merupakan jantung kehidupan lembah ini. Pasar tersebut tidak hanya diramaikan oleh mereka yang berjual beli bahan-bahan makanan dan minuman, tetapi juga barang-barang keperluan sehari-hari yang dijajakan terutama oleh para pendatang dari luar Irian Jaya (kebanyakan dari Jawa dan Sulawesi Selatan).

Daya Tarik Koteka
Lembah Baliem kini sudah diperkenalkan dengan cocok tanam padi, perumahan rakyat, di samping pendidikan yang dibawa oleh misi Kristen Protestan dan Katholik. Penduduk asli masih lebih suka menanam talas dan ubi jalar, tinggal di rumah-rumah tradisional yang pengap, sedangkan rumah-rumah Perumnas justru kosong tanpa penghuni.
Bagi para turis mancanegara mungkin yang paling menggetarkan hati mereka adalah kehidupan penduduk asli suku Dani, yang pria masih mengenakan koteka (horim) dan wanitanya menutupi sebagian aurat mereka dengan pakaian wanita juga masih primitif.
Harus diakui bahwa Operasi Koteka yang dicoba puluhan tahun lalu ternyata belum berhasil. Keinginan pemerintah pusat di Jakarta untuk menghapus pemakaian koteka dan menggantikannya dengan kemeja dan celana hingga hari ini masih belum sepenuhnya berhasil. Setidaknya ini terjadi di sekitar Lembah Baliem, termasuk ibu kota Kabupaten, Wamena.
Herman Diener sesudah melakukan survei selama tiga hari menyimpulkan, Lembah Baliem sangat ideal menjadi surga para trekkers dunia. Pertama, karena kehidupan di lembah ini relatif masih utuh menggambarkan kehidupan sejak zaman batu, walaupun di sana-sini sudah berjulangan antene-antene parabola untuk menangkap siaran-siaran televisi dari mana pun di dunia.
Di sana terdapat pula bangunan-bangunan tempat ibadah orang-orang beragama Kristen dan Islam, gedung-gedung sekolah, penginapan, kantor-kantor pemerintahan, tempat usaha swasta dan Pasar Nayak. Selain itu, ada beberapa kendaraan bermotor roda dua dan empat yang sekali-sekali muncul di jalanan serta becak-becak dari Medan.
Kedua, alamnya yang sangat mendukung karena ketinggian dan iklimnya yang sejuk. Alam sekitarnya juga relatif masih utuh, tepat sama seperti ribuan tahun lalu, bahkan sampai pada jarak ratusan kilometer ke arah mana pun jika Wamena diambil sebagai titik pusat keberangkatan untuk melakukan trekking atau jalan kaki lintas alam.
Di sana tersedia pos-pos telekomunikasi dan beberapa losmen atau hotel melati yang sederhana. Para trekkers yang datang ke Lembah Baliem memang bukan hendak menikmati berbagai fasilitas wisata modern seperti yang terdapat di negeri asal mereka. Kegandrungan manusia akan kehidupan kembali kepada alam (back to nature life style) akan mereka bayar berapa pun mahalnya.
Sebagian di antara manusia-manusia di negara maju sejak lahir telah jenuh dengan fasilitas yang serba modern, serba wah dan serba mewah. Maka kini mereka ingin merasakan, menghayati serta kembali ke alam seperti apa yang dinikmati oleh saudara-saudara mereka yang nampak hidup bahagia, tenteram dan damai di Lembah Baliem. Itulah kurang lebih kesimpulan Herman Diener.
Konsep yang lebih teknis yang dihasilkan Herman Diener telah disampaikannya kepada ASITA yang menugaskannya, dan tidak mustahil ASITA pun tentu telah menyerahkan satu copy hasil studinya kepada pemerintah, atau (ketika itu) Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel).
Kita tidak tahu pasti, bagaimana nasib laporan survei dan studi yang dilakukan Heritage International bersama ASITA delapan tahun lalu itu. Tetapi satu hal yang pasti adalah, ada harapan yang patut diwujudkan untuk menjadikan Lembah Baliem sebagai lembah lintas alam. Tempat ini bukan hanya dapat dijual ke pasar dunia sebagai satu di antara eco tourism objects di Indonesia, tetapi menjadi salah satu wilayah paling langka di dunia.
Diener menekankan tentang mutlaknya tersedia berbagai penginapan walaupun sederhana, namun mempunyai standar kesehatan yang prima. Para penunjuk jalan (guides) harus memiliki pengetahuan yang memadai serta menguasai segala pengetahuan umum yang berkaitan dengan Lembah Baliem dan Irian Jaya pada umumnya.
Penguasaan bahasa asing untuk masing-masing negeri asal turis manca negara Barat maupun Timur juga mutlak diperlukan. Hal ini berarti menuntut tersedianya guides yang mampu berbahasa Jerman, Prancis, Inggris, Jepang, Cina, Korea dan sebagainya. Perpustakaan yang memadai tentang Lembah Baliem dan Irja, termasuk peta untuk para trekkers, juga harus tersedia.
Selain itu diperlukan adanya pos-pos pendukung untuk mengantisipasi keadaan darurat misalnya jika ada trekker yang sakit atau mengalami kecelakaan, jaringan telekomunikasi yang prima, sarana transportasi di sekitar Lembah Baliem maupun di tempat lain apabila sewaktu-waktu ada yang terpaksa diangkut ke Jayapura atau Jakarta.

Tantangan
Lembah Baliem patut mendapat perhatian dari Kantor Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata. Memang tidak dianjurkan Lembah Baliem dipertahankan ibarat “kebun manusia” (atau the human zoo) seperti yang pernah ditudingkan oleh dunia luar kepada RI ketika RI getol-getolnya berkampanye merebut Irian Barat melalui Tri Komando Rakyat, lebih dari 40 tahun lalu.
Meskipun demikian, selagi masih tersisa, budaya zaman batu itu patut dimanfaatkan sebagai semacam ”museum hidup” yang tidak mutlak tertutup untuk kemajuan dunia. Sekarang pun antene-antene parabola untuk menangkap siaran televisi dari seantero dunia sudah berjulangan di sekitar kota Wamena. Wamena juga tidak luput dari sentuhan jaringan telekomunikasi dan transportasi udara.
Kesimpulan sementara kita: jangan sia-siakan Lembah Baliem, sejauh kita masih dapat menikmatinya sebagai taman purbakala. Dan laksanakan saran Herman Diener untuk menjadikannya surga bagi para pelintas alam. Sambil menggandeng saudara-saudara kita dari suku Dani, kita tetap menghormati hak mereka untuk meraih kehidupan yang lebih maju dan manusiawi, sejajar dengan seluruh bangsa Indonesia.

March 13, 2008 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.