Neversad4ever’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

POTENSI ALAM IRIAN JAYA TENGAH

IRIAN JAYA TENGAH

IRIAN Memandangi alam Papua dari atas pesawat terbang begitu menakjubkan. Bakal perusahaan penerbangan Carstensz Papua Airlines mengajak Reni Rohmawati dan D.N. Yusuf untuk menjelajahi langit Papua dan menikmati alam nan indah itu.

Puncak Pegunungan Carstensz tidak semua diliputi salju. Namun selimut putih itu masih ada di bagian puncak pegunungan. Tentu saja, Puncak Jaya tak pernah ditinggalkan salju. Tampak jelas pula terlihat indahnya dari ketinggian 7.000 kaki, dari pesawat B737-200 berlogo Carstensz Papua Airlines (CPA) yang dioperasikan Star Air.Bulan Mei memang bukan musim dingin dan hujan. “Biasanya salju itu menutupi hampir semua pegunungan Carstensz, hingga ke lereng,” ujar George Ramas, aktivis di sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang konservasi alam.Pemuda Papua berusia 28 tahun itu begitu antusias menjelaskan keberadaan dan keindahan alam yang seringkali dijelajahinya lewat darat. “Biasanya kami menyewa pesawat kecil punya penerbangan misi, MAF atau AMA. Kami dropped di suatu tempat, kemudian dijemput lagi. Beberapa hari untuk sampai ke puncak Carstensz itu,” ceritanya.“Hey, lihat! Itu Memberamo. Sungai yang besar di Papua,” tunjuknya. Dari kaca pesawat terlihat alur sungai yang melingkar-lingkar. Di ketinggian itu, sungai tampak jelas dan besar. Warnanya kecoklatan, dan di sepanjang tepinya, pohon-pohon menghijau menambah kontras warnanya. Di tempat-tempat tertentu terdapat kawasan pemukiman dengan rumah-rumah yang jumlahnya sehitungan jari

Terkadang, awan tebal menutupi pemandangan di bawahnya. Awan yang mengarak di bawah pesawat menari-nari dengan pesonanya. Pemandangan awan pun tampak menawan dengan warna putihnya yang menghiasi langit nan biru cemerlang.

Menarik cerita yang diungkapkan dr. Suryanto, seorang dokter ahli penerbang-an, tentang daya tarik Papua. Alam Papua yang amat elok, terutama jika dilihat dari ketinggian, menjadikan orang terpana karena tak ada bandingnya.

Begitu indahnya ratusan kawanan rusa berlari-lari ketika menyadari ada pesawat yang terbang rendah. Mengagumi batu-batu cadas di tebing-tebing freeway terowongan daerah pegunungan Jayawijaya, seolah-olah berada di area permainan layar Star Trek.

Ketika sedang merenungi salju abadi di Puncak Jaya, yang memutih seperti kapas dan yang bertengger di karang-karang batu padas menjulang tinggi, merupakan pengalaman me-nyaksikan kebesaran alam. Mengamati dari ketinggian, hamparan hutan tropis yang masih perawan, sambil menyu-suri sungai-sungai Memberamo di Pantai Utara yang berkelok-kelok bak ular untuk mencapai muaranya di laut. Dapat di-bayangkan, di muara sungai itu, ribuan buaya raksasa berukuran 8 meter, bersarang dan ber-kembang biak.

Tak salah jika dulu orang Belanda mengatakan bahwa Kepulauan Nusantara seperti “Untaian Zamrud di Khatulis-tiwa”. Papua sebagai salah satu zamrud induknya. Jika pernah beberapa lama ikut penerbangan perintis di pedalamam Papua, rasa rindu untuk menengok kembali ke sana kadang sulit dielakkan.

Kebanggaan Papua

Cuaca pada 2 Mei 2002 pukul 10.15 WIT itu memang cerah. Setelah lepas landas dari Timika, 15 menit sebelumnya, captain pilot Andi Sucipto terbang rendah untuk memperlihatkan pegunungan Carstensz yang diselimuti salju. Pesawat dimiringkan ke kiri, kemudian ke kanan, agar seluruh penumpang dapat melihat pemandangan yang mempesona itu.Nama Carstensz Papua untuk airlines yang akan didirikan beberapa warga Papua itu memang untuk menunjukkan kemegahan pegunungan di kawasan Papua itu. Di samping itu, logo Burung Taun-Taun, juga menunjukkan ciri khas daerah yang memiliki potensi alam yang berlimpah itu. Bahkan, Aser Madjar, presiden direkturnya, dan Edison Murib, presiden komisarisnya, berkeinginan agar sumberdaya manusianya pun adalah orang-orang Papua. Sayangnya, masih langka masyarakat Papua yang menjadi manusia profesional di bisnis penerbangan.Namun, Murib mengatakan bahwa suatu kebanggaan bagi masyarakat Papua memiliki sebuah pesawat. “Kita harus bekerja keras,” ucapnya, seraya menambahkan bahwa CPA bukan cuma kebanggaan Papua, tapi juga bagian dari program nasional.Pada saat ini CPA sedang menyiapkan pilot dan pramugari asal Papua. Dua siswa sekolah penerbang Deraya, Kristianus Agapa dan Yonas Ronsumbre, serta lima calon pramugari CPA turut dalam penerbangan tersebut. Mereka diharapkan dapat menjadi contoh bagi penduduk setempat.

Agapa yang sudah mengantongi 110 jam terbang mengakui sulitnya menjaring remaja Papua jadi penerbang. “Kami bertiga, tapi yang bertahan tinggal kami berdua,” kata Agapa yang sudah 2,5 tahun di Deraya. Ronsumbre belum setahun menjalani pendidikannya, dan baru beberapa jam terbang dikantonginya. Calon pramugari CPA pun baru akan memasuki pendidikan.

CPA sudah melayangkan pengajuan permohonan izin sebagai perusahaan penerbangan, pada April 2002. Namun, sampai Juni lalu , izinnya belum keluar.

Mengejar 1 Mei

Tanggal 1 Mei, menjadi momen penting bagi CPA untuk mulai terbang di bumi Papua. Tepatnya 1 Mei 1963, merupakan tanggal sewaktu Papua ­dulu Irian Barat, kemudian Irian Jaya kembali ke pangkuan Republik Indonesia. Untuk mengejar tanggal itu pula, CPA berupaya keras untuk dapat terbang, walau berbagai persyaratan untuk menjadi sebuah airlines belum dipenuhinya

Dengan bantuan dan kerjasama Star Air, penerbangan pun terlaksana. Pada 30 April 2002, di terminal A Bandara Soekarno-Hatta diselenggarakan pembukaan penerbangan tersebut, yang dihadiri Deputi Menneg Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia dan beberapa direktur utama airline nasional.

Pukul 11.00, pesawat tinggal landas menuju Bandara Hasanuddin, Makassar, yang ditempuh sekitar dua jam. Para penumpang yang transit ditempatkan di terminal internasional karena merupakan penerbangan “khusus”. Empat puluh lima menit kemudian, pesawat mulai terbang menuju Biak.

Malam, pukul 19.30 waktu setempat, menyambut kedatangan pesawat B737-200 itu. Di tepi landasan terlihat kumpulan masyarakat yang melambaikan tangan dan memandangi pesawat. Suatu pemandangan yang membuat penumpang pesawat terkaget-kaget. “Kok, mereka bisa masuk sampai ke landasan?” Lebih-lebih saat pesawat berhenti di apron. Masyarakat Biak, dari anak-anak sampai orang tua, laki-laki perempuan, langsung mengerubungi pesawat.

“Kami juga sampai kaget. Kami takut mereka terkena imbas panasnya mesin pesawat,” ungkap beberapa awak pesawat. Bahkan mereka juga khawatir jika masyarakat dengan tak sengaja melakukan hal-hal yang mengakibatkan kerusakan pada pesawat. Namun, petugas bandara meyakinkan bahwa pesawat akan aman.

TARIAN YOSPAN

Hari yang dinantikan itupun tiba. Tanggal 1 Mei 2002 –tanggal yang ingin dijadikan tonggak penerbangan CPA, pukul 10.00, pesawat lepas landas dari Bandara Frans Kaisiepo, Biak, ke Bandara Sentani, Jayapura, yang ditempuh dalam waktu satu jam penerbangan. Kemudian, burung besi berkapasitas 100 seat itu akan mendarat di Timika, ibukota Kabupaten Mimika, tempat perusahaan tambang Freeport berada. Untuk hari itu, Timika adalah tujuan akhir penerbangan CPA, yang punya semboyan The Flying Sampari.

Di Sentani, masyarakat penyambut tidak seantusias di Biak. Tak ada orang-orang yang berdiri di tepi landasan. Namun, di dekat tower bandara, kumpulan warga setempat dan petugas bandara, serta pegawai Dinas Perhubungan Papua, menyambut kedatangan pesawat bernama Port Mumbay itu.

Tarian Yospan (Yosim Panca), tarian adat Papua untuk menyambut kedatangan tamu, dipentaskan di bawah pesawat dan penari pun mengelilinginya. Sambutan sederhana, tanpa kehadiran Gubernur Papua, pun dilaksanakan.

Menurut Wakil Kepala Dinas Perhubungan Propinsi Papua, Mathius Papare, yang mewakili Gubernur, pihaknya bangga dengan adanya citra Papua yang berkibar di Nusantara. Namun, ia mengimbau, untuk tidak menyakiti warga karena etnis Papua itu merupakan harkat dan martabat yang membutuhkan tanggung jawab.“Banyak daerah yang belum terjangkau, dan adanya penerbangan, diharapkan untuk mempercepat pembangunan. Kami juga sedang menjajagi adanya penerbangan dengan pesawat-pesawat kecil yang dapat menjangkau pelosok itu,” ujar Papare.Ketidakhadiran Gubernur untuk menyambut CPA, bisa jadi karena para demonstran menggelar aksi di dekat makam Theys Hio Eluway, di Sentani. Kehadiran CPA rupanya juga ditanggapi sebagian masyarakat untuk menggelar upaya yang bertujuan lain.Usai makan siang, pukul 14.00, penerbangan dilanjutkan ke Timika. Captain pilot memang ingin memperlihatkan keindahan kawasan Papua dari udara. Usai lepas landas, Danau Sentani yang dihiasi pulau-pulau kecil yang menghijau adalah lukisan alam yang indah. Bagus sekali tampak dari udara! Apalagi jika dilihat dari atas pesawat kecil, sejenis Cessna atau Twin Otter, yang terbang lebih rendah. Pesawat-pesawat kecil itulah memang yang kerap melintas di langit Papua.

Demikian menakjubkannya sepanjang penerbangan yang ditempuh 45 menit itu. Pepohonan yang tampak bak brokoli menghampar sepanjang pulau. Begitu lebatnya! Di antara hutan liar itu, sungai-sungai besar berkelak-kelok bagai ular besar berjalan.

Namun, mendekati Bandara Timika, hamparan tailing (limbah penambangan) mengubah warna hijau itu menjadi putih dan kering. Pepohonan meranggas, kering, dan mati. “Semua di sana mati. Bahkan dalam radius satu kilometer dari sana, semua yang hidup sudah tak sehat lagi. Airnya juga tercemar,” kata Ramas, sedih.

Bandara Timika yang juga didarati pesawat Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara dari Jakarta, di samping pesawat-pesawat milik Airfast, tampak unik. Letak landasan, apron, dan terminal seolah-olah terpisah. Dari apron, penumpang diangkut bus melalui jalan khusus menuju terminal.

Tarian Yospan pun kembali dipentaskan. Bahkan, setelah acara penyambutan sederhana, para penumpang diajak para penari setempat untuk ikut menari mengikuti irama khas Papua. Suasana sore hari itu pun cukup menggembirakan. Apalagi operasi penerbangannya tanpa masalah yang berarti.

Kota Timika memiliki dua sisi yang kontras. Satu sisi, didiami penduduk lokal dengan rumah-rumah sederhana. Bahkan seringkali listrik pun mati. Di sisi lain, ada kawasan Kuala Kencana yang asri, tempat bermukimnya para pekerja Freeport, dan sebuah hotel mewah yang nyaman. Sayangnya, rombongan tak sempat berkunjung ke Tembagapura, kawasan penambangan berhawa dingin yang fantastik.

Sebagian besar dari sekitar 80 penumpang CPA dan awak Star Air memang belum pernah menikmati penerbangan di atas alam yang menakjubkan itu. Terlepas dari prosedur penerbangan yang tidak lazim, penerbangan ini tidak mengalami kendala. Namun memang, berwisata menikmati alam, menjelajahi dan mensyukuri kebesaran Tuhan, belum populer bagi sebagian besar penduduk kota-kota besar di Indonesia. Cobalah ke Papua!http://www.angkasa-online.com/12/10/plesir/plesir1.htm

May 7, 2008 - Posted by | TUGAS

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.