<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Neversad4ever's Weblog</title>
	<atom:link href="http://neversad4ever.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://neversad4ever.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 May 2008 02:54:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='neversad4ever.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Neversad4ever's Weblog</title>
		<link>http://neversad4ever.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://neversad4ever.wordpress.com/osd.xml" title="Neversad4ever&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://neversad4ever.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>POTENSI ALAM IRIAN JAYA TENGAH</title>
		<link>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/05/07/potensi-alam-irian-jaya-tengah-2/</link>
		<comments>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/05/07/potensi-alam-irian-jaya-tengah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 02:52:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neversad4ever</dc:creator>
				<category><![CDATA[TUGAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neversad4ever.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[IRIAN JAYA TENGAH Maret 2, 2008 oleh AWIT WAHYUDIN IRIAN Memandangi alam Papua dari atas pesawat terbang begitu menakjubkan. Bakal perusahaan penerbangan Carstensz Papua Airlines mengajak Reni Rohmawati dan D.N. Yusuf untuk menjelajahi langit Papua dan menikmati alam nan indah itu. Puncak Pegunungan Carstensz tidak semua diliputi salju. Namun selimut putih itu masih ada di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neversad4ever.wordpress.com&amp;blog=3014265&amp;post=9&amp;subd=neversad4ever&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>IRIAN JAYA TENGAH</h2>
<p class="post-info">Maret 2, 2008 oleh <a title="Tulisan oleh jahidafi90" href="http://jahidafi90.wordpress.com/author/jahidafi90/">AWIT WAHYUDIN</a></p>
<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"> <a href="http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://bp3.blogger.com/_8isAxDpsZ74/RriY1U7IW1I/AAAAAAAAAiM/wPA4Epp37uo/s400/Kawasan%2BWisata%2BLumbok%2BRanau.JPG&amp;imgrefurl=http://ulunlampung.blogspot.com/2007_08_01_archive.html&amp;h=300&amp;w=400&amp;sz=31&amp;hl=id&amp;start=22&amp;tbnid=qMR0S29LPUSPgM:&amp;tbnh=93&amp;tbnw=124&amp;prev=/images%3Fq%3Dpotensi%2Balam%2Bpapua%2B%26start%3D20%26gbv%3D2%26ndsp%3D20%26hl%3Did%26sa%3DN"><img style="border:1px solid;" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:qMR0S29LPUSPgM:http://bp3.blogger.com/_8isAxDpsZ74/RriY1U7IW1I/AAAAAAAAAiM/wPA4Epp37uo/s400/Kawasan%2BWisata%2BLumbok%2BRanau.JPG" alt="" width="124" height="93" /></a> <strong>IRIAN</strong> </span><strong>Memandangi alam Papua dari atas pesawat terbang begitu menakjubkan. Bakal perusahaan penerbangan Carstensz Papua Airlines mengajak <em>Reni Rohmawati</em> dan <em>D.N. Yusuf</em> untuk menjelajahi langit Papua dan menikmati alam nan indah itu.</strong><br />
<span id="more-9"></span></p>
<table border="0" width="1" align="left">
<tbody>
<tr>
<td align="center"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Puncak Pegunungan Carstensz tidak semua diliputi salju. Namun selimut putih itu masih ada di bagian puncak pegunungan. Tentu saja, Puncak Jaya tak pernah ditinggalkan salju. Tampak jelas pula terlihat indahnya dari ketinggian 7.000 kaki, dari pesawat B737-200 berlogo Carstensz Papua Airlines (CPA) yang dioperasikan Star Air.</span><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Bulan Mei memang bukan musim dingin dan hujan. “Biasanya salju itu menutupi hampir semua pegunungan Carstensz, hingga ke lereng,” ujar George Ramas, aktivis di sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang konservasi alam.</span><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Pemuda Papua berusia 28 tahun itu begitu antusias menjelaskan keberadaan dan keindahan alam yang seringkali dijelajahinya lewat darat. “Biasanya kami menyewa pesawat kecil punya penerbangan misi, MAF atau AMA. Kami <em>dropped</em> di suatu tempat, kemudian dijemput lagi. Beberapa hari untuk sampai ke puncak Carstensz itu,” ceritanya.</span><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">“Hey, lihat! Itu Memberamo. Sungai yang besar di Papua,” tunjuknya. Dari kaca pesawat terlihat alur sungai yang melingkar-lingkar. Di ketinggian itu, sungai tampak jelas dan besar. Warnanya kecoklatan, dan di sepanjang tepinya, pohon-pohon menghijau menambah kontras warnanya. Di tempat-tempat tertentu terdapat kawasan pemukiman dengan rumah-rumah yang jumlahnya sehitungan jari</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Terkadang, awan tebal menutupi pemandangan di bawahnya. Awan yang mengarak di bawah pesawat menari-nari dengan pesonanya. Pemandangan awan pun tampak menawan dengan warna putihnya yang menghiasi langit nan biru cemerlang.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Menarik cerita yang diungkapkan dr. Suryanto, seorang dokter ahli penerbang-an, tentang daya tarik Papua. Alam Papua yang amat elok, terutama jika dilihat dari ketinggian, menjadikan orang terpana karena tak ada bandingnya.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Begitu indahnya ratusan kawanan rusa berlari-lari ketika menyadari ada pesawat yang terbang rendah. Mengagumi batu-batu cadas di tebing-tebing <em>freeway </em>terowongan daerah pegunungan Jayawijaya, seolah-olah berada di area permainan layar <em>Star Trek</em>.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Ketika sedang merenungi salju abadi di Puncak Jaya, yang memutih seperti kapas dan yang bertengger di karang-karang batu padas menjulang tinggi, merupakan pengalaman me-nyaksikan kebesaran alam. Mengamati dari ketinggian, hamparan hutan tropis yang masih perawan, sambil menyu-suri sungai-sungai Memberamo di Pantai Utara yang berkelok-kelok bak ular untuk mencapai muaranya di laut. Dapat di-bayangkan, di muara sungai itu, ribuan buaya raksasa berukuran 8 meter, bersarang dan ber-kembang biak.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Tak salah jika dulu orang Belanda mengatakan bahwa Kepulauan Nusantara seperti “Untaian Zamrud di Khatulis-tiwa”. Papua sebagai salah satu zamrud induknya. Jika pernah beberapa lama ikut penerbangan perintis di pedalamam Papua, rasa rindu untuk menengok kembali ke sana kadang sulit dielakkan.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;"><strong>Kebanggaan Papua </strong></span></p>
<table border="0" width="1" align="left">
<tbody>
<tr>
<td align="center"><span style="font-family:ms san serif;color:#000000;font-size:x-small;"> </span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Cuaca pada 2 Mei 2002 pukul 10.15 WIT itu memang cerah. Setelah lepas landas dari Timika, 15 menit sebelumnya, captain pilot Andi Sucipto terbang rendah untuk memperlihatkan pegunungan Carstensz yang diselimuti salju. Pesawat dimiringkan ke kiri, kemudian ke kanan, agar seluruh penumpang dapat melihat pemandangan yang mempesona itu.</span></span><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Nama Carstensz Papua untuk <em>airlines</em> yang akan didirikan beberapa warga Papua itu memang untuk menunjukkan kemegahan pegunungan di kawasan Papua itu. Di samping itu, logo Burung Taun-Taun, juga menunjukkan ciri khas daerah yang memiliki potensi alam yang berlimpah itu. Bahkan, Aser Madjar, presiden direkturnya, dan Edison Murib, presiden komisarisnya, berkeinginan agar sumberdaya manusianya pun adalah orang-orang Papua. Sayangnya, masih langka masyarakat Papua yang menjadi manusia profesional di bisnis penerbangan.</span><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Namun, Murib mengatakan bahwa suatu kebanggaan bagi masyarakat Papua memiliki sebuah pesawat. “Kita harus bekerja keras,” ucapnya, seraya menambahkan bahwa CPA bukan cuma kebanggaan Papua, tapi juga bagian dari program nasional.</span><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Pada saat ini CPA sedang menyiapkan pilot dan pramugari asal Papua. Dua siswa sekolah penerbang Deraya, Kristianus Agapa dan Yonas Ronsumbre, serta lima calon pramugari CPA turut dalam penerbangan tersebut. Mereka diharapkan dapat menjadi contoh bagi penduduk setempat.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Agapa yang sudah mengantongi 110 jam terbang mengakui sulitnya menjaring remaja Papua jadi penerbang. “Kami bertiga, tapi yang bertahan tinggal kami berdua,” kata Agapa yang sudah 2,5 tahun di Deraya. Ronsumbre belum setahun menjalani pendidikannya, dan baru beberapa jam terbang dikantonginya. Calon pramugari CPA pun baru akan memasuki pendidikan.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">CPA sudah melayangkan pengajuan permohonan izin sebagai perusahaan penerbangan, pada April 2002. Namun, sampai Juni lalu , izinnya belum keluar.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;"><strong>Mengejar 1 Mei </strong></span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Tanggal 1 Mei, menjadi momen penting bagi CPA untuk mulai terbang di bumi Papua. Tepatnya 1 Mei 1963, merupakan tanggal sewaktu Papua ­dulu Irian Barat, kemudian Irian Jaya kembali ke pangkuan Republik Indonesia. Untuk mengejar tanggal itu pula, CPA berupaya keras untuk dapat terbang, walau berbagai persyaratan untuk menjadi sebuah <em>airlines</em> belum dipenuhinya</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Dengan bantuan dan kerjasama Star Air, penerbangan pun terlaksana. Pada 30 April 2002, di terminal A Bandara Soekarno-Hatta diselenggarakan pembukaan penerbangan tersebut, yang dihadiri Deputi Menneg Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia dan beberapa direktur utama <em>airline</em> nasional.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Pukul 11.00, pesawat tinggal landas menuju Bandara Hasanuddin, Makassar, yang ditempuh sekitar dua jam. Para penumpang yang transit ditempatkan di terminal internasional karena merupakan penerbangan “khusus”. Empat puluh lima menit kemudian, pesawat mulai terbang menuju Biak.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Malam, pukul 19.30 waktu setempat, menyambut kedatangan pesawat B737-200 itu. Di tepi landasan terlihat kumpulan masyarakat yang melambaikan tangan dan memandangi pesawat. Suatu pemandangan yang membuat penumpang pesawat terkaget-kaget. “Kok, mereka bisa masuk sampai ke landasan?” Lebih-lebih saat pesawat berhenti di apron. Masyarakat Biak, dari anak-anak sampai orang tua, laki-laki perempuan, langsung mengerubungi pesawat.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">“Kami juga sampai kaget. Kami takut mereka terkena imbas panasnya mesin pesawat,” ungkap beberapa awak pesawat. Bahkan mereka juga khawatir jika masyarakat dengan tak sengaja melakukan hal-hal yang mengakibatkan kerusakan pada pesawat. Namun, petugas bandara meyakinkan bahwa pesawat akan aman.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;"><strong>TARIAN YOSPAN</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;"><strong> <a href="http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.suarapembaruan.com/News/2007/10/08/Hiburan/08papuab.gif&amp;imgrefurl=http://artculture-indonesia.blogspot.com/2007/10/artculture-indonesia-potensi-kesenian.html&amp;h=276&amp;w=369&amp;sz=77&amp;hl=id&amp;start=2&amp;tbnid=JjnCi2jLqa8k1M:&amp;tbnh=91&amp;tbnw=122&amp;prev=/images%3Fq%3Dpotensi%2Balam%2Bpapua%2B%26gbv%3D2%26ndsp%3D20%26hl%3Did%26sa%3DN"><img style="border:1px solid;" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:JjnCi2jLqa8k1M:http://www.suarapembaruan.com/News/2007/10/08/Hiburan/08papuab.gif" alt="" width="122" height="91" /></a> </strong></span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Hari yang dinantikan itupun tiba. Tanggal 1 Mei 2002 –tanggal yang ingin dijadikan tonggak penerbangan CPA, pukul 10.00, pesawat lepas landas dari Bandara Frans Kaisiepo, Biak, ke Bandara Sentani, Jayapura, yang ditempuh dalam waktu satu jam penerbangan. Kemudian, burung besi berkapasitas 100 <em>seat</em> itu akan mendarat di Timika, ibukota Kabupaten Mimika, tempat perusahaan tambang Freeport berada. Untuk hari itu, Timika adalah tujuan akhir penerbangan CPA, yang punya semboyan <em>The Flying Sampari</em>.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Di Sentani, masyarakat penyambut tidak seantusias di Biak. Tak ada orang-orang yang berdiri di tepi landasan. Namun, di dekat tower bandara, kumpulan warga setempat dan petugas bandara, serta pegawai Dinas Perhubungan Papua, menyambut kedatangan pesawat bernama <em>Port Mumbay</em> itu.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Tarian Yospan (Yosim Panca), tarian adat Papua untuk menyambut kedatangan tamu, dipentaskan di bawah pesawat dan penari pun mengelilinginya. Sambutan sederhana, tanpa kehadiran Gubernur Papua, pun dilaksanakan.</span></p>
<table border="0" width="1" align="left">
<tbody>
<tr>
<td align="center"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Menurut Wakil Kepala Dinas Perhubungan Propinsi Papua, Mathius Papare, yang mewakili Gubernur, pihaknya bangga dengan adanya citra Papua yang berkibar di Nusantara. Namun, ia mengimbau, untuk tidak menyakiti warga karena etnis Papua itu merupakan harkat dan martabat yang membutuhkan tanggung jawab.</span></span><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">“Banyak daerah yang belum terjangkau, dan adanya penerbangan, diharapkan untuk mempercepat pembangunan. Kami juga sedang menjajagi adanya penerbangan dengan pesawat-pesawat kecil yang dapat menjangkau pelosok itu,” ujar Papare.</span><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Ketidakhadiran Gubernur untuk menyambut CPA, bisa jadi karena para demonstran menggelar aksi di dekat makam Theys Hio Eluway, di Sentani. Kehadiran CPA rupanya juga ditanggapi sebagian masyarakat untuk menggelar upaya yang bertujuan lain.</span><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Usai makan siang, pukul 14.00, penerbangan dilanjutkan ke Timika. Captain pilot memang ingin memperlihatkan keindahan kawasan Papua dari udara. Usai lepas landas, Danau Sentani yang dihiasi pulau-pulau kecil yang menghijau adalah lukisan alam yang indah. Bagus sekali tampak dari udara! Apalagi jika dilihat dari atas pesawat kecil, sejenis Cessna atau Twin Otter, yang terbang lebih rendah. Pesawat-pesawat kecil itulah memang yang kerap melintas di langit Papua.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Demikian menakjubkannya sepanjang penerbangan yang ditempuh 45 menit itu. Pepohonan yang tampak bak brokoli menghampar sepanjang pulau. Begitu lebatnya! Di antara hutan liar itu, sungai-sungai besar berkelak-kelok bagai ular besar berjalan.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Namun, mendekati Bandara Timika, hamparan <em>tailing</em> (limbah penambangan) mengubah warna hijau itu menjadi putih dan kering. Pepohonan meranggas, kering, dan mati. “Semua di sana mati. Bahkan dalam radius satu kilometer dari sana, semua yang hidup sudah tak sehat lagi. Airnya juga tercemar,” kata Ramas, sedih.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Bandara Timika yang juga didarati pesawat Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara dari Jakarta, di samping pesawat-pesawat milik Airfast, tampak unik. Letak landasan, apron, dan terminal seolah-olah terpisah. Dari apron, penumpang diangkut bus melalui jalan khusus menuju terminal.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Tarian Yospan pun kembali dipentaskan. Bahkan, setelah acara penyambutan sederhana, para penumpang diajak para penari setempat untuk ikut menari mengikuti irama khas Papua. Suasana sore hari itu pun cukup menggembirakan. Apalagi operasi penerbangannya tanpa masalah yang berarti.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Kota Timika memiliki dua sisi yang kontras. Satu sisi, didiami penduduk lokal dengan rumah-rumah sederhana. Bahkan seringkali listrik pun mati. Di sisi lain, ada kawasan Kuala Kencana yang asri, tempat bermukimnya para pekerja Freeport, dan sebuah hotel mewah yang nyaman. Sayangnya, rombongan tak sempat berkunjung ke Tembagapura, kawasan penambangan berhawa dingin yang fantastik.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial,Helvetica,ms san serif;font-size:x-small;">Sebagian besar dari sekitar 80 penumpang CPA dan awak Star Air memang belum pernah menikmati penerbangan di atas alam yang menakjubkan itu. Terlepas dari prosedur penerbangan yang tidak lazim, penerbangan ini tidak mengalami kendala. Namun memang, berwisata menikmati alam, menjelajahi dan mensyukuri kebesaran Tuhan, belum populer bagi sebagian besar penduduk kota-kota besar di Indonesia. Cobalah ke Papua!http://www.angkasa-online.com/12/10/plesir/plesir1.htm</span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/neversad4ever.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/neversad4ever.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neversad4ever.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neversad4ever.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neversad4ever.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neversad4ever.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neversad4ever.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neversad4ever.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neversad4ever.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neversad4ever.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neversad4ever.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neversad4ever.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neversad4ever.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neversad4ever.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neversad4ever.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neversad4ever.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neversad4ever.wordpress.com&amp;blog=3014265&amp;post=9&amp;subd=neversad4ever&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/05/07/potensi-alam-irian-jaya-tengah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5037b9777fa4df46de329788279b0737?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">neversad4ever</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:qMR0S29LPUSPgM:http://bp3.blogger.com/_8isAxDpsZ74/RriY1U7IW1I/AAAAAAAAAiM/wPA4Epp37uo/s400/Kawasan%2BWisata%2BLumbok%2BRanau.JPG" medium="image" />

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:JjnCi2jLqa8k1M:http://www.suarapembaruan.com/News/2007/10/08/Hiburan/08papuab.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>potensi alam irian jaya tengah</title>
		<link>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/03/13/potensi-alam-irian-jaya-tengah/</link>
		<comments>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/03/13/potensi-alam-irian-jaya-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 09:50:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neversad4ever</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neversad4ever.wordpress.com/2008/03/13/potensi-alam-irian-jaya-tengah/</guid>
		<description><![CDATA[Lembah Baliem Surga Para Pelintas Alam Dalam 30 tahun baru tiga kali penulis menginjakkan kaki di bumi Irian Jaya. Pertama kali pada 1 Mei 1963, ketika meliput serah terima wilayah provinsi Irian Barat dari UNTEA (United Nations Temporary Administration) ke haribaan RI yang disaksikan oleh segenap pers dunia di Kota Baru (sekarang Jayapura). Kedua, menjelang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neversad4ever.wordpress.com&amp;blog=3014265&amp;post=8&amp;subd=neversad4ever&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="justify"><b><font face="Arial">Lembah Baliem Surga Para Pelintas Alam</font></b></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><font face="Arial" size="2">Dalam 30 tahun baru tiga kali penulis menginjakkan kaki di bumi Irian Jaya. Pertama kali pada 1 Mei 1963, ketika meliput serah terima wilayah provinsi Irian Barat dari UNTEA (United Nations Temporary Administration) ke haribaan RI yang disaksikan oleh segenap pers dunia di Kota Baru (sekarang Jayapura). </font></p>
<p><span id="more-8"></span></p>
<p><font face="Arial" size="2">Kedua, menjelang akhir 1986, kali ini sampai di Lembah Baliem, ketika meliput konvensi nasional ASITA (Association of Indonesian Tourism and Travel Agents), dan terakhir pada 1993 ketika mendampingi Herman Diener seorang pakar pariwisata dari Belanda pemilik perusahaan konsultan Heritage International, yang berkedudukan di Singapura, untuk melakukan survei kelayakan wilayah Lembah Baliem sebagai surga para trekker (pelintas alam) dunia.<br />
Untuk bisa sampai ke Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya di Lembah Baliem, praktis hanya ada satu jalan masuk yakni lewat udara. Lembah Baliem ini dalam guide books sering dinamakan the Grand Valley of the Baliem River, yang terletak di perut atau tengah-tengah wilayah paling timur Indonesia. Merpati Nusantara Airline (menjelang 1 Mei 1963 masih bernama Kroonduif) hingga hari ini melayani rute Jayapura-Wamena tiap hari dengan jarak terbang satu jam.<br />
Gunung-gunung menjulang tinggi yang memayungi lembah yang berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut ini adalah Puncak Mandala (Mount Juliana) yang mencapai 4.700 meter, Puncak Yamin 4.595 meter dan Gunung Trikora (dulu Mount Wilhelmina) yang merupakan mahkotanya dan terletak di sebelah barat daya Lembah Baliem mempunyai ketinggian 4.743 meter.<br />
Walaupun jalan darat sudah terbentang antara Kabupaten Jayawijaya sampai Jayapura, untuk sementara Anda tidak dianjurkan menempuhnya, karena di sana-sini masih mengalami kerusakan. Di samping faktor keamanan yang harus diperhitungkan, jalan darat pun masih jauh dari nyaman. Sarana pendukung untuk para pelintas jalan darat memang belum memadai, atau Anda harus jeli, tabah dan “siap tempur” untuk menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk menyediakan bahan bakar untuk jarak ratusan kilometer untuk pergi-pulang dari Jayapura-Wamena.<br />
Di samping itu, berbagai keperluan mendasar lainnya untuk setiap perjalanan jarak jauh tidak bisa Anda harapkan dapat diperoleh di sepanjang jalan antara kedua tempat tersebut. Bisa Anda bayangkan, andaikan sudah ada satu atau dua bengkel kendaraan antara Jayapura dan Lembah Baliem (kawasan paling terpencil di kawasan Nusantara paling timur), tentu masih merupakan kemewahan untuk mengharapkan keadaan di sepanjang perjalanan darat di Irian Jaya itu seperti di Pulau Sumatra, Kalimantan atau Sulawesi.<br />
Mungkin kita masih harus menunggu beberapa puluh tahun lagi untuk melihat perkembangan di provinsi yang masih bergolak ini hingga daerah ini mampu mengejar ketinggalan dari rata-rata wilayah luar Jawa lainnya. Walaupun prospek ekonomi Irian Jaya tergolong nomor wahid, mengingat prospek kekayaan alam seperti tambang logam, minyak dan gas bumi. Di samping prospek ekonomi lain yang berasal dari hasil-hasil hutan maupun agro-industri yang kini sudah dirintis dengan penanaman kelapa sawit dalam skala besar.</p>
<p>Bisa Bertemu Obahorok<br />
Jika Anda cukup beruntung dan Obahorok masih hidup, maka kedatangan Anda di bandara Wamena bisa saja Anda disambut oleh kepala suku Dani, Obahorok, yang sekian puluh tahun lalu sempat beromantika dan kawin dengan Wynn Sargent. Sargent adalah seorang wartawati foto Amerika yang mengaku anthropolog, yang kemudian menerbitkan buku tentang kehidupan suku Dani di Lembah Wamena.<br />
Siapa yang tidak tertarik membaca buku yang ditulis oleh seorang (yang mengaku) antrhopolog, sementara buku itu disusun selama berbulan-bulan dan dilakukan studi selama bertahun-tahun? Belum lagi tekadnya yang nekat, kawin dengan sang kepala suku, Obahorok. Padahal mereka dipisahkan oleh jarak budaya, bahkan peradaban, ratusan ribu tahun.<br />
Sargent yang berasal dari negeri paling modern dan paling maju di dunia, sedangkan Obahorok ketika menjalin asmara dengan Sargent yang berkulit putih itu, mungkin baru pertama kali selama hidupnya bertemu dengan peralatan modern yang terbuat dari logam, termasuk alat potret. Seperti beberapa puluh tahun sebelum juru foto Michael Rockefeller (anak laki-laki multi miliarder David Rockefeller) hilang di belantara Irian, rata-rata masyarakat Irian, termasuk suku Dani, masih menggunakan kapak batu, anak panah dan tombak untuk berburu.</p>
<p>Surga bagi Trekkers<br />
Alam Lembah Baliem yang sejuk dengan suhu beberapa derajat di malam sampai pagi hari, dengan udaranya yang masih sangat bersih tanpa polusi serta hijaunya padang ilalang dan rumputnya, memberi justifikasi kepada Herman Diener untuk mengambil kesimpulan bahwa Lembah Baliem nyaris merupakan surga bagi para pelintas alam atau trekkers.<br />
Dunia kini sedang gandrung dengan wisata alam atau eco tourism, sehingga khususnya para muda-mudi dari berbagai negara maju seperti Eropa, Amerika, Australia bahkan Jepang sempat berbondong-bondong dalam jumlah ribuan tiap tahunnya untuk menjejakkan kaki di Lembah Baliem. Lembah Baliem bagaikan taman firdaus dengan kehidupan manusia yang masih erat memeluk peradaban zaman batu, tinggal di gubuk-gubuk gelap tanpa jendela.<br />
Namun masyarakat di Lembah Baliem telah ribuan tahun mengenal kegiatan bercocok tanam, sehingga dari jumlah ribuan orang Suku Dani pada sekitar 1930-an, kini mencapai puluhan ribu. Hasil pertanian mereka adalah talas, ubi jalar, serta beberap jenis buah-buahan dan sayur-sayuran.<br />
Tetapi ternyata jumlah turis asing per tahun yang mencapai ribuan orang, sekarang sudah jauh merosot bahkan tinggal beberapa ratus orang setiap tahun. Ini sebagai akibat dari masa krisis moneter dan tidak cukup promosi Lembah Baliem sebagai surga para pelintas alam.<br />
Begitu menjejakkan kaki di bandara Wamena dan meletakkan kopor di penginapan (di Wamena belum ada hotel berbintang, yang ada sekadar losmen dan penginapan kelas melati), Herman Diener langsung menjelajahi Lembah Baliem (lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut).<br />
Lembah Baliem dipagari oleh pegunungan-pegunungan dengan ketinggian ribuan meter, sebagai kelompok gunung-gunung bersalju. Sungguh menggelikan bahwa kita sering lupa sesungguhnya Indonesia memiliki gunung yang tidak kurang menggetarkannya dibandingkan dengan gunung-gunung Alpen di Eropa yang puncaknya selalu bersalju.<br />
Di tengah kehidupan yang nyaris masih primitif, di kota kecil Wamena terdapat pasar Nayak yang merupakan jantung kehidupan lembah ini. Pasar tersebut tidak hanya diramaikan oleh mereka yang berjual beli bahan-bahan makanan dan minuman, tetapi juga barang-barang keperluan sehari-hari yang dijajakan terutama oleh para pendatang dari luar Irian Jaya (kebanyakan dari Jawa dan Sulawesi Selatan).</p>
<p>Daya Tarik Koteka<br />
Lembah Baliem kini sudah diperkenalkan dengan cocok tanam padi, perumahan rakyat, di samping pendidikan yang dibawa oleh misi Kristen Protestan dan Katholik. Penduduk asli masih lebih suka menanam talas dan ubi jalar, tinggal di rumah-rumah tradisional yang pengap, sedangkan rumah-rumah Perumnas justru kosong tanpa penghuni.<br />
Bagi para turis mancanegara mungkin yang paling menggetarkan hati mereka adalah kehidupan penduduk asli suku Dani, yang pria masih mengenakan koteka (horim) dan wanitanya menutupi sebagian aurat mereka dengan pakaian wanita juga masih primitif.<br />
Harus diakui bahwa Operasi Koteka yang dicoba puluhan tahun lalu ternyata belum berhasil. Keinginan pemerintah pusat di Jakarta untuk menghapus pemakaian koteka dan menggantikannya dengan kemeja dan celana hingga hari ini masih belum sepenuhnya berhasil. Setidaknya ini terjadi di sekitar Lembah Baliem, termasuk ibu kota Kabupaten, Wamena.<br />
Herman Diener sesudah melakukan survei selama tiga hari menyimpulkan, Lembah Baliem sangat ideal menjadi surga para trekkers dunia. Pertama, karena kehidupan di lembah ini relatif masih utuh menggambarkan kehidupan sejak zaman batu, walaupun di sana-sini sudah berjulangan antene-antene parabola untuk menangkap siaran-siaran televisi dari mana pun di dunia.<br />
Di sana terdapat pula bangunan-bangunan tempat ibadah orang-orang beragama Kristen dan Islam, gedung-gedung sekolah, penginapan, kantor-kantor pemerintahan, tempat usaha swasta dan Pasar Nayak. Selain itu, ada beberapa kendaraan bermotor roda dua dan empat yang sekali-sekali muncul di jalanan serta becak-becak dari Medan.<br />
Kedua, alamnya yang sangat mendukung karena ketinggian dan iklimnya yang sejuk. Alam sekitarnya juga relatif masih utuh, tepat sama seperti ribuan tahun lalu, bahkan sampai pada jarak ratusan kilometer ke arah mana pun jika Wamena diambil sebagai titik pusat keberangkatan untuk melakukan trekking atau jalan kaki lintas alam.<br />
Di sana tersedia pos-pos telekomunikasi dan beberapa losmen atau hotel melati yang sederhana. Para trekkers yang datang ke Lembah Baliem memang bukan hendak menikmati berbagai fasilitas wisata modern seperti yang terdapat di negeri asal mereka. Kegandrungan manusia akan kehidupan kembali kepada alam (back to nature life style) akan mereka bayar berapa pun mahalnya.<br />
Sebagian di antara manusia-manusia di negara maju sejak lahir telah jenuh dengan fasilitas yang serba modern, serba wah dan serba mewah. Maka kini mereka ingin merasakan, menghayati serta kembali ke alam seperti apa yang dinikmati oleh saudara-saudara mereka yang nampak hidup bahagia, tenteram dan damai di Lembah Baliem. Itulah kurang lebih kesimpulan Herman Diener.<br />
Konsep yang lebih teknis yang dihasilkan Herman Diener telah disampaikannya kepada ASITA yang menugaskannya, dan tidak mustahil ASITA pun tentu telah menyerahkan satu copy hasil studinya kepada pemerintah, atau (ketika itu) Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel).<br />
Kita tidak tahu pasti, bagaimana nasib laporan survei dan studi yang dilakukan Heritage International bersama ASITA delapan tahun lalu itu. Tetapi satu hal yang pasti adalah, ada harapan yang patut diwujudkan untuk menjadikan Lembah Baliem sebagai lembah lintas alam. Tempat ini bukan hanya dapat dijual ke pasar dunia sebagai satu di antara eco tourism objects di Indonesia, tetapi menjadi salah satu wilayah paling langka di dunia.<br />
Diener menekankan tentang mutlaknya tersedia berbagai penginapan walaupun sederhana, namun mempunyai standar kesehatan yang prima. Para penunjuk jalan (guides) harus memiliki pengetahuan yang memadai serta menguasai segala pengetahuan umum yang berkaitan dengan Lembah Baliem dan Irian Jaya pada umumnya.<br />
Penguasaan bahasa asing untuk masing-masing negeri asal turis manca negara Barat maupun Timur juga mutlak diperlukan. Hal ini berarti menuntut tersedianya guides yang mampu berbahasa Jerman, Prancis, Inggris, Jepang, Cina, Korea dan sebagainya. Perpustakaan yang memadai tentang Lembah Baliem dan Irja, termasuk peta untuk para trekkers, juga harus tersedia.<br />
Selain itu diperlukan adanya pos-pos pendukung untuk mengantisipasi keadaan darurat misalnya jika ada trekker yang sakit atau mengalami kecelakaan, jaringan telekomunikasi yang prima, sarana transportasi di sekitar Lembah Baliem maupun di tempat lain apabila sewaktu-waktu ada yang terpaksa diangkut ke Jayapura atau Jakarta.</p>
<p>Tantangan<br />
Lembah Baliem patut mendapat perhatian dari Kantor Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata. Memang tidak dianjurkan Lembah Baliem dipertahankan ibarat “kebun manusia” (atau the human zoo) seperti yang pernah ditudingkan oleh dunia luar kepada RI ketika RI getol-getolnya berkampanye merebut Irian Barat melalui Tri Komando Rakyat, lebih dari 40 tahun lalu.<br />
Meskipun demikian, selagi masih tersisa, budaya zaman batu itu patut dimanfaatkan sebagai semacam ”museum hidup” yang tidak mutlak tertutup untuk kemajuan dunia. Sekarang pun antene-antene parabola untuk menangkap siaran televisi dari seantero dunia sudah berjulangan di sekitar kota Wamena. Wamena juga tidak luput dari sentuhan jaringan telekomunikasi dan transportasi udara.<br />
Kesimpulan sementara kita: jangan sia-siakan Lembah Baliem, sejauh kita masih dapat menikmatinya sebagai taman purbakala. Dan laksanakan saran Herman Diener untuk menjadikannya surga bagi para pelintas alam. Sambil menggandeng saudara-saudara kita dari suku Dani, kita tetap menghormati hak mereka untuk meraih kehidupan yang lebih maju dan manusiawi, sejajar dengan seluruh bangsa Indonesia.<br />
</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/neversad4ever.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/neversad4ever.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neversad4ever.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neversad4ever.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neversad4ever.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neversad4ever.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neversad4ever.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neversad4ever.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neversad4ever.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neversad4ever.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neversad4ever.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neversad4ever.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neversad4ever.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neversad4ever.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neversad4ever.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neversad4ever.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neversad4ever.wordpress.com&amp;blog=3014265&amp;post=8&amp;subd=neversad4ever&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/03/13/potensi-alam-irian-jaya-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5037b9777fa4df46de329788279b0737?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">neversad4ever</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>voyager</title>
		<link>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/voyager/</link>
		<comments>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/voyager/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 04:03:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neversad4ever</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/voyager/</guid>
		<description><![CDATA[hari ini, 5 september 2007, voyager 1 genap berumur 30 tahun. diluncurkan pada 5 september 1977 (saya baru berumur 5 tahun tuh!), voyager 1 awalnya direncanakan untuk misi 5 tahun, namun tetap operasional sampai saat ini, dan baru pada tahun 2020 nanti diperkirakan akan berhenti beroperasi karena sudah kehabisan sumber energi. jarak antara matahari dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neversad4ever.wordpress.com&amp;blog=3014265&amp;post=7&amp;subd=neversad4ever&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hari ini, 5 september 2007, voyager 1 genap berumur 30 tahun. diluncurkan pada 5 september 1977 (saya baru berumur 5 tahun tuh!), voyager 1 awalnya direncanakan untuk misi 5 tahun, namun tetap operasional sampai saat ini, dan baru pada tahun 2020 nanti diperkirakan akan berhenti beroperasi karena sudah kehabisan sumber energi.<br />
jarak antara matahari dengan voyager 1 adalah sekitar 15.44 milyar kilometer, sehingga sinyal elektromagnetik dari voyager 1 membutuhkan sekitar 13 jam untuk mencapai bumi. sebagai perbandingan, cahaya membutuhkan waktu 1.4 detik dari bulan ke bumi, 8.5 menit dari matahari ke bumi, sementara cahaya dari pluto mencapai bumi membutuhkan waktu 5.5 jam. </p>
<p>saat ini para ilmuwan memperkirakan bahwa voyager 1 sudah memasuki pinggiran tata surya, heliosheath, yaitu zona antara termination shock (gelombang kejut) — tempat kecepatan solar wind (angin matahari) melambat dari kecepatan cahaya ke kecepatan suara akibat tertahan oleh medium antarbintang (interstellar medium) — dengan heliopause, yaitu tempat angin matahari berhenti sama sekali, yang diperkirakan sebagai batas tatasurya. diperkirakan voyager 1 akan mencapai batas tatasurya sekitar tahun 2015 nanti. jika voyager 1 masih bisa beroperasi saat itu, inilah saat pertama kali para ilmuwan bisa mendapatkan pengukuran langsung dari medium antarbintang.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/neversad4ever.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/neversad4ever.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neversad4ever.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neversad4ever.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neversad4ever.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neversad4ever.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neversad4ever.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neversad4ever.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neversad4ever.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neversad4ever.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neversad4ever.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neversad4ever.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neversad4ever.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neversad4ever.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neversad4ever.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neversad4ever.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neversad4ever.wordpress.com&amp;blog=3014265&amp;post=7&amp;subd=neversad4ever&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/voyager/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5037b9777fa4df46de329788279b0737?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">neversad4ever</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manusia Ketemu Makhluk Angkasa Luar Tahun 2020</title>
		<link>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/manusia-ketemu-makhluk-angkasa-luar-tahun-2020/</link>
		<comments>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/manusia-ketemu-makhluk-angkasa-luar-tahun-2020/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 03:33:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neversad4ever</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/manusia-ketemu-makhluk-angkasa-luar-tahun-2020/</guid>
		<description><![CDATA[Kompas, Jumat, 15 Maret 1996 Manusia Ketemu Makhluk Angkasa Luar Tahun 2020 Toledo, Kamis Astronom Amerika Serikat yang terlibat dalam program pencarian asal-usul alam semesta dan segala isinya kini yakin manusia akan bertemu dengan makhluk beradab di luar Bumi (ET) paling lambat 25 tahun yang akan datang. Dalam pertemuan pemburu planet sejagat hari Selasa 12 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neversad4ever.wordpress.com&amp;blog=3014265&amp;post=4&amp;subd=neversad4ever&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kompas, Jumat, 15 Maret 1996</p>
<p>Manusia Ketemu Makhluk Angkasa Luar Tahun 2020<br />
Toledo, Kamis</p>
<p>Astronom Amerika Serikat yang terlibat dalam program pencarian asal-usul alam semesta dan segala isinya kini yakin manusia akan bertemu dengan makhluk beradab di luar Bumi (ET) paling lambat 25 tahun yang akan datang.</p>
<p>Dalam pertemuan pemburu planet sejagat hari Selasa 12 Maret di Toledo, Spanyol, Direktur Program Origins Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) Mike Kaplan mengatakan sudah pasti ada kehidupan berinteligensi di beberapa planet di luar gugus tata surya.</p>
<p>Kaplan meragukan pendapat awam bahwa manusia satu-satunya makhluk beradab di alam semesta ini. &#8220;Saya pikir kita hanya menunggu waktu saja untuk bisa kontak dengan mereka. Bila suatu hari kita bertemu, jangan kaget karena mereka sangat beda dengan kita,&#8221; katanya.</p>
<p>Pertemuan itu diperkirakan paling lambat 25 tahun lagi, sekitar tahun 2020. Yang tahun ini berusia 75 tahun dan tampaknya masih segar bugar tentu saja sangat sedikit yang beruntung bisa jadi saksi dalam pertemuan itu.</p>
<p>Pemburu planet dari seluruh dunia berkumpul di kota bersejarah Spanyol itu untuk membahas pengembangan interferometri inframerah, teknologi yang akan membantu pencarian kehidupan dan makhluk beradab di luar tata surya.</p>
<p>&#8220;Pembahasan ini merupakan upaya pertama merealisasikan program yang sudah berumur 20 tahun, mencari jawaban terhadap pertanyaan ratusan tahun anak manusia mengenai kemungkinan ada makhluk beradab di luar Bumi,&#8221; kata Kaplan.</p>
<p>Keseriusan astronom menyentuh isu &#8220;peka&#8221; ini makin menggeliat setelah astronom Swiss pada Oktober 1995 mendeteksi sebuah planet di luar tata surya. Dalam waktu yang singkat, ilmuwan AS kemudian menemukan dua planet lain.</p>
<p>Inferometer inframerah</p>
<p>Astronom yang ikut dalam pertemuan di Toledo itu memperlihatkan kegairahan akan segera dapat mengaktualkan teknologi inferometer inframerah dalam waktu dekat.</p>
<p>&#8220;Inilah saat pertama, pencarian ET bukan lagi mimpi, tinggal menunggu waktu menerapkan interferometer inframerah,&#8221; kata Kaplan, yang program Origins-nya bertujuan mempelajari asal-usul alam semesta, pembentukan planet, dan eksistensi kehidupan di planet di luar tata surya.</p>
<p>&#8220;Kehidupan di planet lain, kalaupun tak identik, akan sangat serupa dengan kehidupan di Bumi,&#8221; kata biologiwan Spanyol terkemuka Juan Oro dalam sebuah konferensi pers.</p>
<p>Teleskop tradisional dan teleskop angkasa Hubble belum dapat membantu usaha pencarian ET karena cahaya bintang-bintang menghalangi planet-planet yang mengorbit di dekat bintang-bintang itu. Sedangkan sinar inframerah pada interferometer inframerah, yang 40 kali lebih kuat dibandingkan Hubble, mampu &#8220;melihat&#8221; planet mana yang memenuhi syarat perlu -seperti adanya air dan oksigen- ditinggali makhluk hidup.</p>
<p>NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA) secara terpisah telah mulai mengembangkan teknologi inframerah, tapi kedua badan itu berpendapat dibutuhkan kerja sama internasional untuk menjalankan proyek sebesar ini.</p>
<p>NASA menaksir anggaran membangun interferometer inframerah sekitar 200 juta dollar AS setahun, sekitar Rp 460 milyar, untuk jangka waktu 10 tahun. Orang-orang Eropa dan Amerika sependapat proyek ini memulai era baru peradaban manusia.</p>
<p>&#8220;Menemukan kehidupan beradab di luar Bumi akan mengubah segala-galanya: filsafat, agama&#8230; Dan ini akan membuat kita berendah hati&#8230; bahwa manusia bukan satu-satunya makhluk beradab dan tidak istimewa,&#8221; kata Kaplan. Ia menilai program pencarian ET yang serius ini sebagai era eksplorasi baru, Galileo yang baru. (Rtr/sal)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/neversad4ever.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/neversad4ever.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neversad4ever.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neversad4ever.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neversad4ever.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neversad4ever.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neversad4ever.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neversad4ever.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neversad4ever.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neversad4ever.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neversad4ever.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neversad4ever.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neversad4ever.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neversad4ever.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neversad4ever.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neversad4ever.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neversad4ever.wordpress.com&amp;blog=3014265&amp;post=4&amp;subd=neversad4ever&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/manusia-ketemu-makhluk-angkasa-luar-tahun-2020/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5037b9777fa4df46de329788279b0737?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">neversad4ever</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>karya sastra</title>
		<link>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/karya-sastra/</link>
		<comments>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/karya-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 03:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neversad4ever</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neversad4ever.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[ARTIKEL: Pariwisata Flores Menunggu Payung Bersama Oleh FRANS SARONG dan PASCAL S BIN SAJU Pulau Flores dan sekitarnya seperti Pulau Lembata, Adonara, Solor, dan Komodo, dikenal kaya dengan obyek wisata yang unik, dan bernilai tinggi. Empat obyek wisata di antaranya sudah dikenal hingga mancanegara, yakni biawak raksasa komodo di Komodo, taman laut Riung, danau berwarna [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neversad4ever.wordpress.com&amp;blog=3014265&amp;post=3&amp;subd=neversad4ever&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ARTIKEL: Pariwisata Flores Menunggu Payung Bersama<br />
Oleh FRANS SARONG dan PASCAL S BIN SAJU</p>
<p>Pulau Flores dan sekitarnya seperti Pulau Lembata, Adonara, Solor, dan Komodo, dikenal kaya dengan obyek wisata yang unik, dan bernilai tinggi. Empat obyek wisata di antaranya sudah dikenal hingga mancanegara, yakni biawak raksasa komodo di Komodo, taman laut Riung, danau berwarna Kelimutu, dan perburuan paus kotaklema di Lamalera.</p>
<p>Obyek-obyek wisata tadi berada dalam satu lintas tujuan wisata nasional, yakni Bali dan Senggigih di Lombok (Nusa Tenggara Barat). Meski demikian, obyek wisata di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tadi belum dikelola secara maksimal. Belum bernilai ekonomis bagi daerah dan penduduknya, serta sepi kunjungan wisata.</p>
<p>Kiprah wisata di Flores terputus, tidak hanya dari arah barat (Bali dan Lombok), tetapi juga daratan pulau itu sendiri. Flores yang kini meliputi tujuh kabupaten, termasuk Lembata, belum memiliki payung bersama dalam mengelola pariwisatanya. Mereka masih asyik berjuang sendiri-sendiri.</p>
<p>Dari Komodo ke Kelimutu</p>
<p>Tidak dapat disangkal, biawak raksasa komodo yang menghuni kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) di Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores, adalah kekhasan Indonesia. Biawak dari zaman prasejarah ini masih hidup hingga di zaman modern seperti sekarang ini, dan menjadi daya tarik satu-satunya yang dimiliki dunia saat ini.</p>
<p>TNK terkenal hingga pelosok dunia karena menyimpan dua objek wisata berdaya tarik tinggi. Selain kadal raksasa komodo tadi, juga bentangan kawasan perairannya yang kaya berbagai jenis biota lautnya.</p>
<p>Biawak komodo (Varanus komodoensis)—reptil darat terbesar di dunia—di TNK hidup menyebar di Pulau Komodo, Rinca, dan Gilimotang. Sekitar 2.000-an ekor reptil ini disebut ora oleh masyarakat setempat dan termasuk binatang pemakan bangkai dan terkadang kanibal. Mangsa yang sekaligus menjadi makanannya adalah rusa, babi hutan, kerbau dan kuda liar.</p>
<p>Kekuatan lain dari TNK adalah kekayaan kandungan air lautnya. Kawasan laut TNK seluas 132.572 hektar, memiliki kandungan biota tergolong kaya di dunia. Hasil penelitian bahkan menyebutkan terumbu karang dalam kawasan TNK sebagai terindah di dunia karena bentuk dan warnanya beraneka. Terumbu karangnya terdiri dari 260 jenis.</p>
<p>Di perairan TNK terdapat lebih dari 1.000 jenis ikan bernilai ekonomis tinggi, seperti kerapu dan ikan napoleon (Chelinus undulatus), jenis ikan langka yang menjadi hidangan bergengsi di China.</p>
<p>Perairan TNK juga merupakan tempat berlindung dan bertelur berbagai jenis ikan karang, penyu hijau dan penyu sisik. Perairan yang sama merupakan jalur lintasan sekitar 10 jenis paus, enam jenis lumba-lumba dan ”ikan duyung” dugong.</p>
<p>Setelah mengunjungi TNK biasanya perjalanan wisata di Flores akan dilanjutkan antara lain menuju Riung di Kabupaten Ngada. Selain memiliki perairan laut yang jernih, pulau kelelawar Ontoloe, serta pulau-pula berpasir putih, Riung juga menyimpan potensi taman laut yang indah.</p>
<p>Perjalanan wisata ke kawasan Pulau Flores terasa tidak lengkap jika wisatawan tidak menyempatkan diri mengunjungi danau berwarna Kelimutu di Ende. Obyek wisata yang satu ini menyimpan misteri alam yang tiada duanya karena warnanya berubah-ubah dari waktu ke waktu.</p>
<p>Danau ”ajaib” itu ditemukan oleh Van Suchtelen, pegawai pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Danau vulkanik itu dianggap ajaib atau misterius karena warna ketiga danau itu berubah-ubah, seiring dengan perjalanan waktu. Awalnya, Kelimutu memiliki tiga danau masing- masing berwarna merah, putih, dan biru. Selalu berubah-ubah dalam setiap waktu, dan pada medio Oktober ini, dua dari tiga danau itu berwarna coklat, lainnya hijau.</p>
<p>Lamalera</p>
<p>Terletak di tepi selatan Pulau Lembata, Lamalera hanyalah sebuah kampung kecil yang berhadapan dengan Selat Ombai. Meski begitu, kampung ini sejak lama terkenal hingga ke ujung dunia. Kekuatan pencuatnya adalah tradisi penangkapan paus kotaklema atau sperm whale (Physeter macrocephalus) yang mamalia raksasa laut, serta berbagai jenis ikan besar lainnya yang dilakukan secara tradisional oleh nelayan pemburunya.</p>
<p>Perburuan itu dilakukan dengan hanya mengandalkan alat tangkap yang amat sederhana, yakni sejenis sampan bernama pledang. Sampan kecil bercadik ini hingga sekarang tetap menjadi andalan para nelayan memburu paus.</p>
<p>Cara berburu paus sebesar 15-an meter dengan bobot rata-rata 40-an ton, memang amatlah unik dan bahkan amat menantang maut. Para nelayan mendekatkan pledang dengan ikan buruan, lalu ikan raksasa itu langsung ditombaki dengan tempuling berpengait.</p>
<p>Caranya pun nekat. Ikan buruan ditombaki oleh seorang nelayan khusus dengan melompat dari pledangnya. Tidak jarang para nelayan bersama pledangnya terseret hingga laut lepas, bila mangsa buruan buas dan tidak cepat mati.</p>
<p>Perburuan paus di Lamalera terjadi antara Mei-Oktober. Selama musim ini, Lamalera menebarkan bau amis dari jemuran dendeng daging kotaklema. Hampir di setiap rumah penduduk dilengkapi ”pancuran dadakan” khusus, mengalirkan tetesan minyak dari potongan lemak dendeng yang dijemur. Sebagian tampungan minyak paus ini, dipakai sebagai bahan bakar nyala penerangan pelita di waktu malam.</p>
<p>Egoisme daerah</p>
<p>Meski memiliki potensi unik seperti itu (yang tiada taranya di dunia), pemerintah daerah di kawasan itu belum berpikir ke arah pengembangan kawasan wisata yang terpadu satu sama lain. Masing-masing daerah hanya mempromosikan obyek wisata di daerahnya sendiri, tanpa memedulikan potensi wisata di daerah lainnya.</p>
<p>Wacana agar pengelolaan pariwisata Flores-Alor berada di bawah satu payung sebenarnya sudah bergulir sejak tahun 1996. Salah seorang tokoh penggagasnya, Paul Boleng, yang ketika itu menjabat Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai di Ruteng. Gagasan itu sudah melangkah jauh, hingga terlaksananya sebuah pertemuan yang melibatkan seluruh Kepala Dinas Pariwisata dari tujuh kabupaten di kawasan itu.</p>
<p>Bahkan hasil pertemuan itu langsung dibukukan dengan judul Pariwisata Flores-Alor. Paul Boleng, yang kini sudah pensiun, ketika diubungi tim Lintas Timur-Barat Kompas, Selasa (25/10) menjelaskan, gagasan itu sebetulnya bertolak dari suatu kekhawatiran bahwa pengelolaan pariwisata di kawasan itu hanya akan berakhir dengan kesia-siaan jika dilakukan sendiri-sendiri.</p>
<p>Kekhawatiran itu kemudian terbukti semakin mengental di era otonomi daerah karena masing-masing daerah mengedepankan urusan daerahnya sendiri tanpa peduli akan perlunya keterkaitan dengan daerah lain di sekitarnya. Buktinya hingga kini gagasan tentang perlunya payung bersama untuk pengelolaan pariwisata di kawasan itu belum juga terwujud.</p>
<p>Dulunya, inti gagasan itu ialah menginginkan pembentukan Badan Pariwisata Flores-Alor, bertugas menyusun rencana induk pengembangan pariwisata. Ternyata, dalam perjalanannya tidak direspons serius seperti diharapkan. Pejabat terkait dari masing-masing daerah lebih melihatnya sebagai proyek, hingga menjadi kendala terbentuknya payung bersama tadi.</p>
<p>Kepentingan promosi wisata, misalnya, menjadi urusan sendiri-sendiri setiap daerah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ende hanya mempromosikan danau berwarna Kelimutu, begitu juga Pemkab Manggarai Barat dengan komodonya, Ngada dengan Riung-nya dan Lembata dengan perburuan paus kotaklema di Lamalera.</p>
<p>Jika pemerintah di seluruh kawasan itu serius dan menyadari potensi berantai tadi, hampir pasti kunjungan wisata tidak terputus hanya pada satu obyek wisata. Seharusnya juga, agar kunjungan wisata tidak terputus seperti itu, pembangunan wisata Flores yang berada dalam satu lintasan wisata dengan Bali dan Lombok harus membangun kantor bersama di Bali. (diambil dari Kompas edisi 29/10/05) </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/neversad4ever.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/neversad4ever.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neversad4ever.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neversad4ever.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neversad4ever.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neversad4ever.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neversad4ever.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neversad4ever.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neversad4ever.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neversad4ever.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neversad4ever.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neversad4ever.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neversad4ever.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neversad4ever.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neversad4ever.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neversad4ever.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neversad4ever.wordpress.com&amp;blog=3014265&amp;post=3&amp;subd=neversad4ever&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/karya-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5037b9777fa4df46de329788279b0737?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">neversad4ever</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/hello-world/</link>
		<comments>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 03:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neversad4ever</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neversad4ever.wordpress.com&amp;blog=3014265&amp;post=1&amp;subd=neversad4ever&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/neversad4ever.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/neversad4ever.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neversad4ever.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neversad4ever.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neversad4ever.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neversad4ever.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neversad4ever.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neversad4ever.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neversad4ever.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neversad4ever.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neversad4ever.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neversad4ever.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neversad4ever.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neversad4ever.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neversad4ever.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neversad4ever.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neversad4ever.wordpress.com&amp;blog=3014265&amp;post=1&amp;subd=neversad4ever&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neversad4ever.wordpress.com/2008/02/29/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5037b9777fa4df46de329788279b0737?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">neversad4ever</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
